Rambu Solo : Tradisi dan Upacara Pemakaman Unik di Tana Toraja

Mulai Dari Rai Tau Tau Sampai Dengan Mayat Berjalan Di Rambu Solo Tanah Toraja

Wisata Holik - Tana Toraja memang tidak pernah kehilangan daya tarik untuk dikunjungi oleh para wisatawan. Kabupaten paling utara dari Provinsi Sulawesi Selatan ini memang dianugerahi pesona alam dan panorama yang indah, terlebih jika ditengok dari budaya dan Culture yang sedikit berbeda dengan Budaya yang ada di Sulawesi Selatan, menjadikan para turis baik lokal maupun manca negara tidak kehabisan alasan untuk selalu berwisata ke negeri langit ini.

Nauasa kebudayaan yang berbeda seperti Tongkonan, Upacara Pemakaman Rambu Solo, Pekuburan Gua Londa, Pekuburan Ketek, Patung Yesus Raksasa dan Negeri di atas awan Lolai membuat anda tidak akan memiliki waktu liburan yang panjang di Sulawesi Selatan. 

Rambu Solo : Tradisi dan Upacara Pemakaman Unik di Tana Toraja


Nenek Moyang Orang Toraja

Menurut mitos yang diturunkan dari ke generasi ke generasi, nenek moyang asli dari suku Toraja tidak berasal dar manusia, melainkan turun langusng dari kayangan menggunakan tangga. Tangga ini berfungsi sebagai media untuk berkomunkasi dengan tuhan yang disebut dengan Puang Matua. Meskipun demikian, dari manuskrip tertua dari Suku Sulawesi Selatan menyebutkan bahwa Toraja adalah salah satu turunan dari Sawerigading yang mendiami pegunungan di sebelah barat Luwu.

Nama Toraja adalah nama yang disematkan oleh orang-orang  bugis sidenreng di masa lampau yang merujuk pada lokasi para penduduk Toraja tinggal yakni Riaja yang secara harfiah gunung. "To Riaja" dapat pula diartika sebagi orang-orang yang bermukim di gunung sementara orang-orang di daerah Luwu menyebut mereka sebagai "Riajang" atau orang-orang yang mendiami daerah barat.

Versi lain dari nama Toraja merujuk pada kata "Toraya" yang secara harfiah dapat diartikan orang-orang Hebat atau Orang-orang besar (Tau: Orang dan Raya: Besar), sedangkan untuk istilah Tana, merujuk pada sebuah kampung dalam bahasa adat Sulawesi Selatan baik itu bugis, makassar, Toraja dan mandar.

Agam asli dari masyarakat Toraja adalah "aluk" yang merupakan adat, kepercayaan, aturan dan ritual tradisional yang dijaga ketat oleh nenek moyang dan pemuka adat Toraja meskipun demikian Masyarakat Toraja sebagian bersa menganut Agama Protestan atau Katolik namun masih banyak melaksanakan tradisi-tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur mereka. Hingga saat ini ritual tradisional masih dipraktekkan dan hanya bisa ditemukan di Tana Toraja.

Masayarakat Toraja adalah masyarakat beradat yang memiliki tata kehidupan yang sangat jelas. Mereka sangat tegas memisahkan antara ritual yang berkaitan dengan kematian dan juga kehidupan. Hal ini juga dikaitkan dengan pertanian yang erat kaitannya dengan kehidupan.

Orang Toraja berkebun dengan padi jenis Gogo Rancah yang miliki batang tinggi. Berjalan menyusuri daerah Toraja, anda akan disuguhkan pemandangan berupa ikatan batang padi yang menyerupai lambang negara Asean. Masyarakat Toraja memiliki tata cara khusus dalam menyimpan padi mereka sebelum dimakan. Seluruh batang padi di anai kemudian di ikat dan disimpan pada lumbung padi khusus berbentuk tonkonan. Tonkonan ini kemudian dihiasi dengan tanduk kerbau pada bagian depan rumah kemudian pada bagian samping akan dihiasi dengan rahang kerbau.

Upacara Adat Rambu

Orang orang toaraja paling tidak memiliki dua upacara adat populer, yakni Rambu Solo dan Rambu Tuka. Rambu Solo merupakan upacara pemakaman yang dilakukan secara besar-besaran dan membutuhkan banyak biaya, sedangkan Rambu Tuka adalah upacara masuk rumah atau rumah yang sudah direnovasi.

Populratis dari kedua upacara tersebut bahkan terdengar sampai ke manca negara, tidak heran jika banyak bule asing yang berkunjung ke Tana Toraja untuk melihat upacara pemakaman besar tersebut. 

Orang Toraja percaya bahwa tanpa melakukan upacara, maka arwah seseorang yang sudah meninggal akan menyisahkan nasib sial dan malang kepada keluarga yang ditinggalkan. Mereka sangat percaya bahwa orang meninggal tidak ubahnya seorang yang sedang sakit sehingga yang hidup memiliki kewajiban untuk merawatnya, diperlakukan seperti orang hidup, diberikan makanan, minuman, sirih dan segala hal yang dibutuhkan oleh orang hidup. Bahkan cucu cucu mereka yang sudah meninggal tetap akan becengkrama dengan mayat dari sang nenek tanpa rasa takut seperti yang dikhawatirkan oleh kebanyakan orang di dunia. Baca Juga : Tempat Wisata di Sulawesi Selatan



Untuk melepas kepergian sang Nenek, orang Toraja akan menggelar upacara tradisional yang rumit dan sakral. Hal yang paling berat adalah biaya yang dikeluarkan tentu saja tidak sedikit, dibutuhkan persiapan berbulan-bulan untuk mencukupi seluruh bahan (sesajen) yang dibutuhkan oleh karena itu bagi keluarga uang belum memiliki cukup banyak uang untuk menggelar upacara, maka orang yang sudah meninggal kemudian dibungkus dengan baju, di balsem dan disimpan di rumah atau di dalam kamar dan tetap berada di tengah keluarga.

Puncak Upacara Rambu Solo akan dilakukan pada bulan Juli dan Agustus dimana seluruh keturunan mereka akan berkumpul untuk melaksanakan kewajiban mereka. Kedatangan para perantau ini kemudian diikuti oleh banyak wisatawan tidak hanya lokal tapi juga manca negara. 

Karena orang Toraja percaya dengan dunia langit sebagai daerah asal mereka, maka mayat akan diletakkan di tempat tertinggi. Orang-orang Toraja percaya bahwa semakin tinggi letak jenazah tersebut semakin cepat mereka mencapai Nirwana. Sedangkan dalam perjalanannya mereka akan dibekali dengan kendaraan.

Luar biasa kerbau tewas sekali penggal


Kalangan bangsawan Toraja harus memotong minimal 24 ekor kerbau bahkan tidak jarang sampai 100 ekor yang dikenal dengan istilah (Ma'tinggoro Tedong). Satu diantara kerbau-kerabu kurban tersebut harus belang atau dikenal dengan nama Tedong Bonga'. Sedangkan harga Kerbau Untuk tahun 2017 harga tedong Bonga bahkan sempat tembus di angka 1,5 milliyar. Prosesi pemotongan pun berlangsung penuh atraksi sebab kerbau tidak akan diikat sebagaimana yang dilakukan orang kebanyakan. Kerbau akan dibiarkan berdiri kemudian dipegang oleh seorang tukang jagal. Sebilah parang kemudian diayungkan dari bawah sampai menembus urat nadi dibagian leher Kerbau dan kerabu terkapar tanpa melakukan perlawanan.

Artikel Wisata Holik Lainnya :

Scroll to top